Mengenalkan Budaya Lokal melalui LIBAJA (LIterasi BAhasa JAwa) pada Anak Usia Dini di Kelas Abu Bakar 5 TKII Waladun Sholihun
Oleh: Zuhriah Kusmartanti, S.Pd. I.
Latar Belakang
Literasi merupakan kemampuan penting dalam kehidupan sehari-hari, mencakup rasa ingin tahu, berpikir kritis, berbahasa, membaca, dan menulis.
Bahasa Jawa sebagai bahasa daerah memiliki dua tingkat tutur — ngoko dan krama. Namun, penggunaannya di kalangan anak usia dini semakin berkurang karena dominasi bahasa Indonesia dan kurangnya pengetahuan tentang budaya unggah-ungguh.
Alasan Pemilihan Program
Zuhriah Kusmartanti memilih LIBAJA karena:
Minimnya penggunaan bahasa Jawa di kelas Abu Bakar 5.
Terbatasnya pengetahuan anak tentang unggah-ungguh (tata krama Jawa).
Anak-anak lebih sering berbahasa Indonesia daripada bahasa Jawa.
Tujuan
Program LIBAJA bertujuan:
Mengenalkan budaya lokal melalui literasi bahasa Jawa.
Membimbing anak berbicara bahasa Jawa dengan benar.
Menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap bahasa daerah.
Tantangan
Membutuhkan waktu lama untuk menanamkan kecintaan terhadap bahasa Jawa.
Menumbuhkan kepercayaan diri anak untuk berbicara bahasa Jawa.
Kesulitan memahami perbedaan ngoko dan krama inggil.
Implementasi Kegiatan
Dilaksanakan sebagai program kokurikuler setiap seminggu sekali di kelas Abu Bakar 5, meliputi:
Membacakan cerita berbahasa Jawa yang diterjemahkan dari bahasa Indonesia melalui situs penerjemahan Kemendikbud, bekerja sama dengan Ibu Sutanti Dwi Utami, S.Pd.
Memperdengarkan video cerita berbahasa Jawa hasil karya pendidik TKII Waladun Sholihun.
Mengenalkan kosakata sederhana (angka, sapaan, dan kalimat pendek) baik ngoko maupun krama inggil.
Mengenalkan budaya unggah-ungguh, seperti cara lewat di depan orang tua atau sopan santun berbicara.
Melibatkan orang tua untuk membacakan cerita berbahasa Jawa di rumah setiap minggu.
Anak dibiasakan mengucapkan kalimat bahasa Jawa seperti “sugeng enjing”, “sugeng siang”, “matur nuwun”, “nyuwun pangapunten” saat di sekolah.
Hasil dan Dampak
Anak mulai berani berkomunikasi dengan bahasa Jawa di kelas.
Anak mengenal budaya unggah-ungguh seperti sopan santun dan ucapan terima kasih.
Anak mampu berhitung dan menyapa dalam bahasa Jawa.
Anak antusias saat mendengarkan cerita bahasa Jawa, baik di sekolah maupun di rumah bersama orang tua.
Refleksi
Zuhriah merasakan dukungan besar dari kepala sekolah, rekan guru, murid, dan orang tua. Ia menilai LIBAJA berhasil menumbuhkan rasa cinta anak terhadap bahasa dan budaya Jawa melalui pendekatan literasi yang menyenangkan.
Profil Singkat
Zuhriah Kusmartanti, S.Pd.I adalah guru TKII Waladun Sholihun di Gunungkidul yang lahir pada 5 Maret 1982. Ia dikenal sebagai pendidik yang ramah, telaten, dan penuh kasih sayang dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak.

0 Comments